Pengenalan Diri
Cara Menetapkan Tujuan Hidup yang Benar-Benar Bermakna
Untuk menetapkan tujuan hidup yang benar-benar bermakna, mulailah dengan memperjelas apa yang sungguh-sungguh Anda hargai, lalu bentuk sedikit tujuan yang mewujudkan nilai-nilai itu di dunia nyata. Tujuan terasa bermakna ketika berasal dari prioritas Anda sendiri, bukan ekspektasi pinjaman. Ini berarti prosesnya dimulai dengan refleksi diri yang jujur, bukan dengan daftar tugas. Berikut cara yang praktis dan membumi untuk melakukannya.
Mengapa kebanyakan tujuan terasa hampa
Banyak tujuan kandas bukan karena kita kurang disiplin, tetapi karena tujuan itu memang tidak pernah benar-benar milik kita. Kita menyerapnya dari orang tua, media sosial, teman sebaya, atau gambaran samar tentang seperti apa kesuksesan seharusnya. Tujuan yang dipinjam dari orang lain bisa terlihat mengesankan, tetapi tetap membuat Anda hampa saat mencapainya.
Tujuan yang bermakna punya tiga ciri:
- Itu milik Anda. Terhubung dengan sesuatu yang benar-benar Anda pedulikan, bukan sesuatu yang menurut Anda seharusnya Anda pedulikan.
- Itu jujur. Sesuai dengan keadaan, energi, dan fase hidup Anda yang sebenarnya.
- Itu punya arah. Menunjukkan Anda ke suatu tempat, meski tujuan pastinya tetap fleksibel.
Langkah 1: Temukan nilai Anda sebelum tujuan Anda
Tujuan bersumber dari nilai. Sebelum memutuskan apa yang akan dilakukan, perjelas dulu apa yang Anda pedulikan. Cara sederhana untuk memunculkan nilai Anda:
- Ingat dua atau tiga momen ketika Anda merasa benar-benar hidup, bangga, atau sangat tenang. Tuliskan apa yang sedang terjadi saat itu.
- Cari benang merahnya. Apakah itu kreativitas? Membantu seseorang? Kemandirian? Penguasaan keterampilan? Keterhubungan?
- Sebutkan tiga sampai lima nilai inti dengan kata-kata sederhana. Inilah kompas Anda.
Anda juga bisa memperhatikan apa yang secara konsisten membuat Anda frustrasi atau marah - rasa tidak nyaman sering menandakan sebuah nilai sedang dilanggar. Jika ketidakadilan membuat Anda geram, mungkin keadilan adalah nilai inti yang layak dijadikan dasar sebuah tujuan.
Langkah 2: Terjemahkan nilai menjadi arah, bukan sekadar tugas
Nilai seperti "pertumbuhan" terlalu abstrak untuk ditindaklanjuti, dan "naik jabatan sebelum Maret" mungkin terlalu sempit. Bidiklah lapisan tengah - sebuah arah. Misalnya:
- Nilai: keterhubungan - Arah: membangun pertemanan yang lebih dalam meski lebih sedikit tahun ini.
- Nilai: kreativitas - Arah: membuat sesuatu dengan tangan sendiri setiap minggu.
- Nilai: kontribusi - Arah: gunakan pekerjaan saya untuk menyelesaikan masalah yang benar-benar saya pedulikan.
Arah membuat Anda tetap terpandu meskipun rencana spesifik berubah. Dari sebuah arah, Anda kemudian bisa menarik satu atau dua tujuan konkret dengan langkah berikutnya yang jelas.
Langkah 3: Pilih sedikit, bukan banyak
Tujuan yang bermakna membutuhkan perhatian, dan perhatian itu terbatas. Alih-alih membuat daftar lima belas resolusi, pilih dua atau tiga arah hidup untuk difokuskan pada musim berikutnya. Kedalaman mengalahkan keluasan. Ketika Anda mencoba mengubah segalanya sekaligus, biasanya Anda tidak mengubah apa pun.
Uji pengorbanan
Untuk setiap tujuan, tanyakan dengan jujur: apa yang bersedia saya korbankan demi ini? Tujuan yang tak ingin Anda tukar dengan apa pun sebenarnya bukan tujuan - itu sekadar harapan. Menyebutkan biayanya di awal akan menunjukkan apakah tujuan itu benar-benar penting bagi Anda.
Langkah 4: Buat tujuan yang konkret dan bisa ditinjau
Begitu sebuah arah terasa tepat, terjemahkan menjadi sesuatu yang kemajuannya benar-benar bisa Anda lihat:
- Tentukan seperti apa "kemajuan" dalam 90 hari ke depan.
- Kenali langkah kecil berikutnya - sesuatu yang bisa Anda lakukan minggu ini.
- Jadwalkan peninjauan bulanan singkat untuk menyesuaikan, bukan untuk menghakimi.
Peninjauan lebih penting daripada rencana awal. Hidup berubah, dan tujuan yang penting di bulan Januari mungkin perlu dibentuk ulang saat musim panas. Itu bukan kegagalan - itu kejujuran.
Langkah 5: Pisahkan tujuan identitas dari tujuan hasil
Tujuan hasil sebagian bergantung pada keberuntungan dan orang lain (pekerjaan tertentu, penghasilan tertentu). Tujuan identitas berkaitan dengan diri seperti apa yang sedang Anda tuju (orang yang menulis setiap hari, yang hadir untuk keluarganya, yang terus belajar). Anda jauh lebih bisa mengendalikan tujuan identitas, dan tujuan ini cenderung menghasilkan capaian sebagai efek sampingnya. Bila memungkinkan, dasarkan tujuan Anda pada identitas.
Ketika Anda merasa buntu atau bingung
Jika Anda tidak bisa menyebutkan apa yang Anda inginkan, itu hal yang lumrah dan bisa diatasi. Kejelasan biasanya datang dari tindakan dan refleksi, bukan dari menunggu kepastian. Cobalah eksperimen kecil - ikut kelas, jadi relawan, mendampingi seseorang di bidang yang Anda penasari - dan perhatikan bagaimana rasanya setiap kali. Alat refleksi diri yang terstruktur juga bisa membantu memunculkan pola yang sebenarnya sudah Anda rasakan tetapi belum bisa dirumuskan dengan kata-kata. Jika Anda ingin titik awal yang terpandu, kuis pengenalan diri dari WalkSelf dirancang untuk membantu Anda merenungkan nilai-nilai dan kemungkinan arah - kuis ini memunculkan kemungkinan dari masukan dan intuisi Anda sendiri, bukan meramalkan masa depan Anda.
Sedikit pengingat realistis
Tidak ada kerangka kerja, kuis, atau perencana yang bisa menjamin kehidupan yang tepat bagi Anda. Yang bisa mereka lakukan adalah memperlambat langkah Anda cukup lama sehingga Anda bisa mendengarkan pikiran Anda sendiri. Tujuan yang layak dipertahankan adalah yang tetap terasa benar setelah refleksi jujur - tujuan yang akan tetap Anda kejar meski tak ada seorang pun yang melihat.
Mulailah dari yang kecil: sebutkan satu nilai, pilih satu arah, ambil satu tindakan minggu ini. Tujuan yang bermakna dibangun satu langkah jujur pada satu waktu.